Tampilkan postingan dengan label Pemikiranku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiranku. Tampilkan semua postingan

20 Okt 2017

Aku dan Novel

Hobbi yang nggak pernah terkikis adalah membaca, bahkan sampai dapat julukan yang aneh dari bapakku si rayap buku (karena baca majalahnya sambil disobekin buat kliping atau ambil gambar yang kusuka, jadinya bukunya kayak habis termakan rayap ha ha ha).
Beberapa postingan sebelumnya pernah menggambarkan kegemaranku membaca ini. Dari mulai aku menemukan surga disebuah persewaan buku yang nggak jauh dari rumah tinggalku.
Dan ternyata persewaan ini sudah tidak buka lagi (huaaa nangis deh aku....soalnya belum nemu lagi yang seperti ini) dari beberapa karyawan yang aku tanyain atau lebih tepat disebut mantan karyawan bercerita bahwa managemen pemiliknya kurang bagus, jadinya pendapatan menurun, koleksi nggak banyak nambah bahkan kesejahteraan karyawan juga kurang (sayang banget padahal koleksinya sangat banyak dan bagus-bagus menurutku)


Dari persewaan ini aku menemukan harta karun dengan koleksi komik Jepang yang ratusan bahkan cerita yang legendaris masih tersimpan rapi dan bagus. Di persewaan ini juga aku mengenal novel dengan beragam cerita. Karena nemunya pas sudah nikah dab beranak pinak akhirnya nyari bacaan yang pas, ketemu deh novel yang ceritanya lebih dewasa. Penemuan novel ini pernah aku tuangin di postinganku sebelumnya tentang aliran baru yang ketemukan, maksudnya aliran bahan bacaan yang baru. terus terang saat aku menemukan persewaan ini aku lebih sering kesini daripada ke toko buku bahkan anak-anakpun aku tularin (penghematan dana saat itu lumayan 1 buku baru sama dengan 10 buku persewaan). 

Tapi aku juga nggak  menutup keinginan beli buku baru di toko, rutinitas buku baru tetep dijalani pastinya. 
Diawal aku mengenal novel pertama kali dulu saat kuliah aku mengenal novel deteftif Agatha Christie hingga punya beberapa koleksinya. Kemudian di persewaan ini aku mulai mengenal novel terjemahan yang kebetulan kebanyakan terbitan Dastan. Dan yang pertama kali kubaca adalah jenis Historical Romance, mungkin karena diriku lebih tertarik dengan keadaan negara diluar Indonesia dan bagaimana sejarahnya. Dari novel-novel itu aku jadi tau tentang berbagai sejarah negara-negara di Eropa dan Amerika, karena kebanyakan latar sejarahnya adalah sejarah negera-negara Eropa dan Amerika. 
Sombongnya diriku tuh nggak mau melirik novel karangan penulis Indonesia sama sekali, yang kubaca terus menerus tuh banyakan yang terjemahan. 


Semakin kesini akhirnya berkembang tidak hanya berjenis historical romance diracunin ma penjaganya dengan novel-novel modern terbaru, tepi tetap tidak jauh dari novel romantis tapi berbagai genre. 
Akhirnya aku sampai sekarang masih suka hunting novel-novel di bazar-bazar buku yang pastinya nyari harga miring, atau kalau pas ada dana berlebih ke toko buku buat nyari buku baru. Koleksiku semakin lama semakin bertambah, dari novel, komik bahkan sampai buku tentang parenting juga ada. 


Untuk membaca sebuah novel kadang bisa cuman hanya sehari selesai, atau mungkin kalau lagi banyak yang harus kukerjakan bisa 3-4 hari baru selesai (tapi kayaknya paling lama cuman 3 hari deh karena nggak betah kalau nggak selesai bacanya, bisa nggak tidur dan nggak fokus ke yang lain ha ha ha...).
Di postingan sebelumnya aku pernah mereview sebuah komik yang aku baca, sepertinya aku mau memulai catatan bacaanku biar nggak lupa apa yang pernah kubaca. Harus baca ulang semua novel yang aku punya untuk bisa menceritakan apa yang kurasakan saat aku membacanya. 
Aku merasa novel-novel ini bisa membawaku ke berbagai situasi, tempat dan perasaan. Bahkan kadang ada beberapa novel yang membuatku terngiang-ngiang kata-katanya ataupun situasinya sampai beberapa hari kedepan. Ada juga novel yang membuatku tertawa sampai menangis saat membacanya.
Saatnya merewind baca nih dan mulai mereviewnya. 

5 Okt 2017

Saat Dua Teman Lama Berbicara

Photo by Jorge Flores on Unsplash

Kemarin ketemu dengan salah seorang teman lama, dulu kita sama-sama berjuang untuk membesarkan jarimatika di wilayah Banyumanik. Berdua kita sering belajar tentang mengatasi masalah belajar anak-anak didik kita, terutama masalah dengan pelajaran matematika. Belajar tentang dunia anak-anak bersama, belajar bagaimana menghadapi permasalahan antara anak dan orang tua terutama yang berhubungan dengan nilai dan cara belajar anak. Berdua berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anak didik kita dan orang tuanya. Kita bekerjasama kurang lebih selama 5 tahun, sampai akhirnya bisa sehati dalam berbagai hal.
Kami punya pandangan yang sama dalam mengajar anak-anak. Bagi kami berdua memberikan ilmu itu prinsipnya ya menebar sesuatu yang bermanfaat soal materi itu insyaallah akan mengikuti. Kami berdua hanya guru les bukan guru disekolah. Tugas kami hanya memberikan tambahan ilmu dari apa yang diberikan guru disekolah. Kami hanya membantu para orang tua yang sudah merasa tidak mampu lagi membantu anak-anaknya untuk belajar.
Sekarang kami jalan sendiri-sendiri untuk mengajar privat , karena bimbingan belajar yang kudirikan sudah aku tutup karena kurang modal (he he he....maklum dulu belum ngerti tentang ilmu perbisnisan menjalankan bimbingan belajar hanya karena ingin membantu dan menebar ilmu saja).

Saat kita ketemu yang dibicarakan ya masalah ngajar mengajar deh. Kita merasa akhir-akhir ini murid kita semakin susah untuk diberi penjelasan. Kita nggak tau kenapa anak-anak ini pengertiannya hanya setengah-setengah saja alias tidak tuntas, jadi saat kita memberikan soal dengan model berbeda disekolah langsung kebingungan. Entah ini karena materi sekolahnya, kurikulumnya atau gurunya. Atau mungkin memang anak-anak sekarang yang malas untuk berpikir panjang. Semakin canggihnya teknologi yang mempermudah semuanya itu membuat daya pikir mereka juga semakin melemah.


Semakin menurunnya minat baca itu juga membuat anak-anak sekarang semakin sulit untuk memahami soal. Soal untuk materi yang sama tapi model berbeda itu saja membuat mereka sudah kesusahan. Menurut kami mereka harus banyak di beri variasi soal perbanyak praktek juga. Kalau menurut kami berdua sebenarnya kurikulum sekarang biasa dikenal kurikulum 2013 itu tidak terlalu berat bagi anak, selama cara mengajarnya sesuai dan orang tua juga nggak bingung sendiri merasa berat. Kurikulum terbaru ini menurut kami ringan dan termasuk pelajaran yang banyak prakteknya karena semua pelajaran disesuaikan dengan tema yang diangkat. Mungkin yang susah itu karena kita terbiasa dengan semua serba diatur, serba teoritis akhirnya saat diberikan sistem yang lebih aplikatif jadi semakin bingung.

Bagi orang tua yang mengandalkan nilai untuk semua mata pelajaran. Nilai sebagai tolak ukur anak itu mengerti, nilai sebagai ukurannya anaknya paham dengan kurikulum baru ini akan meresa kebingungan.


Dan akhirnya kita sebagai guru tambahan harus berpacu bagaimana membuat anak dan orang tua yang meminta bantuan sama-sama nyaman. Kita harus banyak komunikasi dengan orang tua apa yang mereka inginkan untuk anaknya, dan bagaimana sebenarnya kemampuan anaknya. Kami juga tetap meminta bantuan orang tua untuk terus mendampingi anak-anak walaupun sudah meminta kita untuk menemani belajar anaknya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam program ODOP (One Day One Post) Blogger Muslimah Indonesia bulan Oktober 2017
 #ODOPOKT4

2 Okt 2017

Mungkinkah Sejarah Masa Kecil Mempengaruhi Cara Mendidik?


Kalau ditanyakan apa sih sebenarnya sejarah itu? Menurut kamus bahasa Indonesia sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah.  Kalau dilihat dari artinya setiap orang punya cerita sejarahnya sendiri, dan pastinya juga beragam. Ada sejarah yang kelam atau sejarah yang menyedihkan ada juga sejarah yang mencerahkan atau menggembirakan. Sejarah tidak akan pernah hilang hanya mungkin akan terlupakan. Kadang sejarah yang kelam atau sejarah yang kurang menggembirakan sering ingin kita lupakan. Kita hanya ingin mengingat yang menyenangkan saja.

Sejarah orang tua kira-kira berpengaruh nggak sih dalam mendidik anak-anaknya?
Menurutku pengaruhnya sangat kuat banget, karena biasanya orang tua mendidik berdasarkan pengalaman atau apa yang pernah mereka alami atau mereka dapatkan dari orang tua mereka juga.

Salah satu contoh nih orang tua yang dulunya hidup serba kekurangan bahkan untuk bisa sekolah dasar aja mereka sangat bersyukur apalagi untuk bisa mendapatkan fasilitas pembelajaran yang lebih lengkap. Akhirnya karena dendam sejarah kelamnya di masa lalu membuat dia mendidik anaknya dengan berlimpahan fasilitas sekolah yang bagus. Diberikan sekolah terfavorit dengan peralatan sekolah yang bagus, bahkan kadang sampai seperti memanjakan anaknya. Apapun yang anaknya inginkan akan selalu diberikan orang tuanya. Karena dendam sejarah masa lalunya dan belum bisa berdamai akhirnya mempengaruhi anaknya juga.

Diriku dididik di keluarga para pendidik alias guru, kedua orang tuaku adalah guru yang terbiasa dengan hidup yang tertata dari pagi sampai malam. Ini juga membuatku memberikan didikan yang hampir sama dengan cara orang tuaku. Aku membiasakan mengatur jadwal semua anak-anakku dari mulai bangun tidur sampai mereka tidur lagi.

Ada satu didikan yang aku modifikasi soal nilai sekolah. Dulu kedua orang tuaku sangat mementingkan nilai dalam bentuk angka di sekolah mereka selalu memintaku untuk mendapatkan rangking di sekolah. Karena target orang tua untuk nilai tanpa mendiskusikan dengan aku, kadang hal ini membuat beban berat juga. Membuatku hanya mengejar nilai tinggi tanpa melihat hal lain yang lebih penting, seperti bersosialisai dengan banyak teman, mengembangkan keahlian diluar belajar (padahal seneng banget membaca sama menulis sih). Bagi orang tuaku yang penting belajar membaca yang lain itu nomor 2 menulis selain pelajaran juga bukan hal yang penting.

Untuk anak-anakku aku tidak pernah meminta mereka mendapatkan nilai yang tinggi, hanya meminta mereka untuk mengerti atau memahami pelajaran disekolah nilai angka itu nomor 2 bolehlah mendapatkan nilai minimal target kelas. Saat ini aku mengerti bahwa sosialisasi itu penting banget, banyak berteman. Mengembangkan bakat dan minat yang kita miliki itu sangat bermanfaat untuk hidup selanjutnya. Saat ini PR terbesarku adalah menggali bakat minat mereka, mengarahkan ke jalan yang benar dan mendampingi mereka.
kembar dengan pianikanya....


Baik atau buruknya pengaruh sejarah orang tua pada cara mendidik anaknya, semua tergantung bagaimana kita sebagai orang tua. Bagaimana kita memilah sejarah yang bisa kita gunakan untuk mendidik anak-anak kita supaya mereka menjadi kebanggaan kita sebagai orang tua.


Sejarah akan selalu melekat pada diri kita, sejarahlah yang telah membentuk kita jadi seperti sekarang. Jangan pernah dendam dengan sejarah yang kelam cobalah utuk berdamai dan jadikan itu sebagai pelajaran.

tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

9 Sep 2017

Si Kembarku Libur Sabtu dan Minggu



Sudah 2 bulan ini sekolah si kembar dijadikan Pilot Project program pemerintah 5 hari sekolah, artinya mereka harus sekolah dari pagi sampai sore mulai hari Senin sampai Jum'at dan hari Sabtu Minggu libur.

Dengan adanya program ini menuai pro dan kontra di kalangan para orang tua. Mereka tidak menyetujui karena kasihan dengan anak-anaknya yang kecapekan seharian musti disekolah, kalau yang ini apa bedanya dengan pulang sekolah terus dilanjutkan dengan les sana-sini. Kalau kegiatan anaknya hanya sekolah saja bisa dimaklumi, karena memang mereka tidak terbiasa berkegiatan dari pagi sampai sore.

Ada yang berpendapat kalau program ini mengurangi waktu dengan keluarga terutama buat para ibu pekerja, menurut mereka dengan bersekolah full day jam mereka dengan anak-anak berkurang terutama untuk para bunda yang bekerja hanya setengah hari. Saat mereka pulang kerumah anak-anak belum pulang, saat anak sudah pulang dalam keadaan terlalu capek sehingga sudah tidak bisa diajak berinteraksi lagi. 

Dilihat dari semua alasan ketidak setujuan dengan program pemerintah ini, mari kita lihat lagi sebenarnya program apa sih ini dan bagaimana sih pelaksanaannya?

Program ini disebut dengan PPK  kepanjangan dari Penguatan Pendidikan Karakter, yaitu program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi) dan olah raga (kinestetik) sesuai dengan falsafah Pancasila ini pengertian yang kudapatkan dari web kemdikbud.

Kalau kita lihat dari pengertiannya bisa kita simpulkan ini memang sesuai dengan karakter yang harus dimiliki setiap anak dan memang harus selalu dikembangkan. Dengan kuatnya karakter ini akan memperkuat mental anak dalam bertingkah laku di masyarakat. Program pemerintah ini mungkin dijalankan karena semakin maraknya kasus-kasus di masyarakat yang tidak lagi menjunjung budaya-budaya ketimuran. Seperti, menghormati orang yang lebih tua, menghormati guru-gurunya, tingkah laku masyarakat yang semakin individual, kurang pekanya terhadap lingkungan sekitarnya, dan semakin berkurangnya minat baca anak terhadap buku mereka lebih banyak bermain game atau pegang gadget. Ini membuat mereka jadi kurang bergerak juga alias malas gerak bahasa gaulnya "mager".

Kalau dilihat kembali tentang pengertiannya program ini memang sangat diperlukan untuk saat ini. Membangun karakter memang harus dimulai dari dini, di semua lingkungan baik di sekolah maupun di rumah.
Sekarang kita lihat lagi tujuan pemerintah dengan diadakannya program ini. 

Pemerintah mengharapkan PPK ini akan menjadi solusi untuk menempatkan kembali karakter sebagai ruh dalam dunia pendidikan berdampingan dengan intelektualitas. diharapkan akan melahirkan generasi muda yang tangguh, cerdas dan berkarakter (kutipan dari web cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id).

PPK ini sebenarnya juga sebagai salah satu program Revolusi Mental yang digaungkan pemerintah akhir-akhir ini. PPK punya 5 pilar utama yaitu, Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, Integritas. Ehh ternyata 5 pilar utama ini diajarkan jadi tepuk PPK di sekolah si kembar (dari kemarin emaknya dengerin mereka belajar tepuk-tepuk ternyata ini too....ealah ternyata eh ternyata dan ada gerakannya pulak, mungkin biar mereka selalu ingat ini). 

Kalau 5 pilar ini bener diajarkan sesuai perkembangan umur anak mungkin benar-benar akan menumbuhkan anak yang tangguh dan anak yang berkarakter. 
Selain tepuk PPK ini ternyata si kembar juga diajarin salam PPK isinya Cerdas, Berkarakter, Menyenangkan, Luar Biasa, Hebat. Mereka juga diajarkan lagu-lagu untuk pengenalan karakter ini. Cara menyampaikan bagaimana sih PPK ini ke anak memang pas banget ya dengan tepuk semangat, lagu dan gerak itu akan mempermudah ingatannya.

Bagaimana nih penerapan PPK di sekolah si kembar? Pada awal pengenalan untuk orang tua kita di beri keterangan tentang pelaksanaan 5 hari sekolah ini di sekolah. Karena sekolah hanya 5 hari maka otomatis jam sekolah akan diperpanjang, untuk jam mulai sama yaitu jam 7 pagi kalau ada upacara atau senam bersama akan dimulai lebih awal 15 menit. Untuk waktu pulangnya juga beragam kelas 1 dan 2 akan berakhir pukul 1 siang, kelas 3 berakhir pukul 14.30, sedangkan kelas 4-6 berakhir pukul 15.00. Pelajaran sekolah semua berakhir saat istirahat untuk makan siang, jam 12.00 - 13.00. Saat istirahat siang selain makan mereka juga diajak untuk sholat dhuhur untuk murid yang beragama Islam. Setelah istirahat biasanya diisi dengan berbagai ekstrakurikuler sesuai dengan minat anak masing-masing. Dalam pelaksanaan PPK ini guru tidak boleh memberikan pekerjaan rumah untuk anak-anak, semua pembelajaran harus tuntas disekolah. Diharapkan setelah sekolah itu adalah waktu mereka dengan keluarga di rumah. Apabila nilai ketuntasan seorang anak belum tercapai diharapkan guru akan memberikan tugas yang tidak dibawa kerumah, dan tugas yang diberikan tidak boleh dalam bentuk pelajaran tapi dalam bentuk penguatan sikap mereka. Ada lagi kebijakan yang diberikan sekolah untuk anak selama pelaksanaan program ini, apabila saat waktu istirahat setelah ishoma mereka ketiduran guru akan memberikan waktu buat anak beristirahat sebentar (jadi inget habis baca artikel ada sebuah sekolah di luar yang membiasakan anak didiknya tidur dalam keadaan duduk selama 15 menit biar mereka segar kembali setelahnya). 

Untuk aku sendiri sebagai orang tua yang mengalami ini secara umum setuju aja sih. Karena sebelumnya si kakak yang sekolah di sebuah sekolah Alam juga menerapkan hal yang sama, pulang juga sore hari hari sabtu minggu libur. Mungkin dalam pelaksanaannya beda, kurikulum sekolahnya juga beda karena bagaimanapun antara sekolah negeri dan swasta SDM ataupun fasilitas juga beda dalam sisi biaya juga beda. Bagiku soal kepulangan yang semakin sore itu jadi PR buatku untuk mengatur jadwal mereka, nggak mungkin juga kan si kembar nggak belajar sama sekali dirumah. Mereka berdua juga butuh tambahan ilmu agama diluar sekolah seperti mengaji. 

PR bundanya mulai mengatur jadwal mereka berdua yang nyaman dan tidak membuat mereka terlalu kelelahan, yang pastinya juga membuat quality time untuk mereka dengan aku dan ayahnya. 
Soal yang mendukung atau tidak itu alasannya sih sama kuat sebenarnya, tapi karena kita juga butuh sekolah untuk anak kita mau tidak mau kita tetep harus mengikutinya.

Mungkin bisa aku bagi sedikit tips untuk para bunda yang kesulitan mengatur jadwal anak-anaknya biar bisa tetep nyaman buat semua. 
Karena anak sudah dari pagi sampai sore disekolah, pulang sekolah biarkan mereka main sebentar sampai jam mereka harus berkegatan selanjutnya misalkan mengaji (biasanya mengaji itu jadwalnya habis sholat Ashar jadi si kembar ada waktu sekitar sejam untuk main) mungkin bisa kita jadwalkan tidak tiap hari. Atau kalau yang biasa dijadwalkan setelah maghrib bisa juga, dengan memberikan waktu bermain anak lebih lama setelah mandi dan sholat Ashar bisa dijadikan quality time bareng keluarga walaupun sebentar itu sudah sangan membantu. Sebenarnya yang terpenting bukan panjangnya waktu tapi kualitasnya saat bareng mereka. 

Terus kapan saat mereka membuka pelajarannya atau kapan mereka belajar, terus terang untuk ketiga anakku aku tidak pernah memberikan les-les diluar rumah aku lebih banyak belajar bareng mereka karena itu juga salah satu memberikan waktu berkualitas bareng mereka. 
Tapi untuk yang masih membutuhkan waktu lebih dalam pelajaran mungkin bisa dicarikan waktu yang benar-benar nyaman buat mereka dan itupun jangan terlalu lama. Mungkin sejam sudah cukuplah, karena belajar itu nggak butuh lama waktunya tapi konsistensinya. 

Untuk si kembarku biasanya mereka minta waktu belajar setelah sholat Subuh sekitar jam 5 kemudian jam 6 mereka mulai bersiap-siap kesekolah mulai mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Memang berat diawal tapi kalau terus konsisten Insyaallah mereka akan terbangun dengan sendirinya, jadwal akan jalan dengan sendirinya tanpa harus paksaan.

Untuk semua pengaturan jadwal ini aku melibatkan sang ayah juga, jadi semua harus bangun pagi, walaupun si ayah habis sholat Subuh lanjut nonton tv paling tidak si kembar sudah mengikuti kebiasaan baik dengan bangun pagi. 
Jadi bunda semua masalah itu jangan langsung dianggap negatif dulu, yang pertama kali kita pikirkan adalah kebermanfaatannya dan solusinya. Kita harus bisa fokus kesana aja deh, kalau kita fokus kekekurangannya nggak akan pernah habis.

5 Sep 2017

Membaca Membuka Duniaku

Kalau ngomongin soal baca nggak akan pernah habis bahasannya. Ada soal apa gunanya membaca, soal bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak, atau bagaimana minat baca di era digital ini. Soal baca membaca ini kalau mau dibahas bisa dilihat dari banyak hal dan sudut pastinya.

Untuk diriku sendiri membaca itu adalah hobi yang paling dibenci dan dikagumi dari orang tuaku sejak dulu (jadi kangen emak bapak di kampung hik hik hik). Kata-kata yang nggak pernah lupa dari bapakku tuh kalau sudah ngomongin hobi bacaku. "Bocah iki wis dudu kutu buku maneh tapi wis rayape buku" dalam bahasa Indonesia "anak ini sudah bukan kutu buku lagi tapi sudah jadi rayapnya buku" Awalnya bingung juga dapat sebutan rayap buku dari bapak. Sekarang baru ngeh aku kenapa disebut rayap, kalau sudah baca buku nggak akan bergerak kemanapun sampai itu buku selesai bacanya bahkan sampai lecek bukunya. Kalau sudah pegang buku dipanggil berapa kalipun nggak akan nyaut dan nggak mau diganggu. Buku dibolak balik sampai lecek bahkan nggak jarang sampai sobek apalagi kalau sudah aku potong gambar-gambar yang aku suka (ini kayaknya yang dimaksud rayap, bukunya sudah nggak utuh lagi ha ha ha), akhirnya nggak bisa dipinjam orang lain. Jaman dulu yang jadi sasaran si rayap buku ini majalah anak-anak si BOBO dan waktu itu nggak sebagus sekarang ya kontennya.

Setelah majalah anak-anak yang dirayapin meningkat majalah remaja, berhubung nggak bisa beli sendiri alias pinjam nggak bisa jadi rayap lagi deh cukup pembaca sampai tuntas. Menginjak SMU mulai deh ada yang ngenalin yang namanya komik. Waktu itu yang dikenalin komik Jepang yang sering disebut Manga. Dari sana mulai berkembang duniaku, jadi tau tentang dunia diluar Indonesia secara cerita yang lebih menarik. Dunia bacaanku semakin berkembang, tidak hanya koran bacaan ayahku,  majalah remaja (sepertinya bisa dihitung dengan jari yang aku punya kalau majalah...), komik tambah novel.

Karena hidup di kota kecil, untuk mencari buku bacaan terbaru seperti komik atau novel susah dan aku belum tau juga namanya persewaan. Akhirnya bacaan terbatas dari hasil pinjeman teman sekolah atau kalau ada uang saku berlebih beli majalah remaja. Atau kalau ada kesempatan diajak ayah ibu mengunjungi kakakku yang waktu itu kuliah di kota mampir deh ke toko buku besar, dan belanja buku (padahal hanya beli maksimal 2 buku aja sih...).

Aku benar-benar bisa sering ke toko buku besar sekelas Gramedia setelah menginjak kuliah di kota besar. Uang saku selalu kusisihkan untuk beli buku, mulai mengenal persewaan buku juga. Dulu paling suka genre misteri, akhirnya yang sering kebeli novel karangan Agatha Crhristie dan komik misteri juga (ternyata novel sama komik masih aja nangkring di rak bukuku...)

Genre yang kubaca semakin berkembang sekarang, diawal menikah aku suka novel bergenre romantis (sesuai umur ha ha ha..) tapi yang tidak pernah berubah sebenarnya tetap senang genre misteri dan fiksi ilmiah.


Dan alhamdulillah kegilaanku membaca ini bisa menular ke anak-anakku, mereka suka banget kalau diajak ke toko buku dan pameran buku. Walaupun tidak segila ibunya, paling tidak kesukaanku membaca bisa menular ke mereka. 

Dari budaya baca ini aku bisa membuka dunia, dari novel romantis aku banyak baca novel terjemahan. Dari sana aku tau bagaimana kebudayaan Inggris dan Perancis di jaman kerajaan, bagaimana kehidupannya. Aku juga tau tentang cerita Napoleon Bonaparte dari cerita komik, aku juga tambah pengetahuan tentang penyakit AIDS bagaimana sebenarnya penyakit itu dan masih banyak lagi yang kuketahui dari membaca. Itu yang membuat aku semakin tergila-gila dengan genre fiksi ilmiah, tapi kalau disuruh baca buku ilmiah agak pusing  ha ha ha.... (coba buku pelajaran bentuknya bercerita seperti novel atau dibikin komik, pasti pada semangat belajarnya). Yang terakhir aku baca novel karangan penulis Indonesia serial BUMI karangan Tere Liye, disinis banyak banget tentang ilmu alam salah satunya tentang susunan bumi. Genrenya fiksi ilmiah banget (ini nggak sabar buat nungguin seri selanjutnya.....).

Jadi siapa bilang baca cerita fiksi baik itu komik atau novel nggak nambah ilmu, dengan mambaca aku bisa berkeliling dunia tanpa harus capek-capek perjalanan. Aku bisa tau sejarah dunia juga dari membaca. Membaca benar-benar bisa membuka wawasan kita.


Tulisan ini diikutkan dalam Postingan Tematik (PosTem) Blogger Muslimah Indonesia
#PostinganTematik
#BloggerMuslimahIndonesia

26 Agu 2017

Secangkir Kopi Pagi Hari


Pagi ini sambil melihat TV dengan suami yang menikmati kopinya, melihat tayangan tv sudah lebih dari semingguan yang dibahas tentang kasus First Travel, sebuah travel umroh dan haji yang menelantarkan jama'ahnya sampai ribuan orang. Tidak hanya media televisi yang menyiarkan bahkan media online beritanya bersliweran di dunia maya. Banyak komentar bersliweran ada yang menghujat, ada yang hanya sepintas lalu bacanya kok bisa? paling itu yang jadi pertanyaan, ada yang jadi kajian tentang manajemen bisnis, manajemen keuangannya, atau mungkin gaya hidupnya yang jadi sorotannya.

Nah di pagi ini, yang jadi bahasan kami tentang gaya hidupnya yang sungguh fantastis bagaikan seorang putri kerajaan, padahal kalau di lihat penghasilan dan bisnisnya juga belum begitu besar. Terus terang karena latar belakang pendidikan suami adalah akuntansi, yang disorot itu tentang keuangannya. Sebuah bisnis tanpa pencatatan keuangan yang benar apalagi bisnis atau usaha yang lumayan menasional pasti akan amburadul. Hasil usaha atau kerja kalau hanya untuk memenuhi gaya hidup sampai kapanpun tidak akan pernah cukup berapapun itu. Mereka hanya memikirkan saat ini tanpa memikirkan besok kedepannya bagaimana?

Gaya hidup yang penuh kemewahan itu sering disebut dengan gaya hidup "hedon" atau aliran "hedonisme". apa sih sebenarnya gaya hidup hedonis itu? menurut wikipedia : 

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonismemerupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Itu arti secara bahasa, tapi dalam kenyataannya hedonisme ini bukan pandangan hidup lagi tapi berubah jadi gaya hidup. Sering lebih disamakan dengan gaya hidup yang konsumtif dan banyak dipilih pada masyarakat urban. Mereka selalu memenuhi kehidupannya untuk menjadi lebih bergaya, kelihatan jaya di mata masyarakat. Contoh yang terjadi di masyarakat kita banyak banget sebenarnya, seperti bos travel ini (First Travel), beberapa artis yang punya koleksi mobil mewah atau berlian, membangun rumah yang super mewah, liburan yang selalu keluar negeri, koleksi tas yang harganya sudah bukan ratusan juta bahkan sudah menyentuh angka fantastis milyaran rupiah.


Ini hanya pemikiran kami berdua sebenarnya, kita lihat nih banyak contoh orang yang lebih kaya dari mereka tapi hidupnya sangat sederhana. Banyak pengusaha yang penghasilannya sudah bukan milyaran lagi tapi trilyunan bahkan di nobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia bahkan di dunia, tapi gaya hidup mereka bahkan tak begitu semewah itu. Cara mereka bersosialisasi, cara mereka membelanjakan pendapatannya, cara mereka menjalani hari sangat-sangat sederhana. Mereka sepertinya hanya memikirkan bagaimana semakin banyak menebar manfaat ke lebih banyak orang.
Apakah mereka tidak pernah berpikir panjang saat belanja, buat apa sih semua barang ini? seperti kolektor mobil-mobil mewah yang kecepatannya lumayan tuh... mau dipakai dimana dengan jalanan di Indonesia seperti ini, apalagi di kota besar yang sebagian besar macetnya parah paling juga kebanyakan hanya nangkring di garasi, tapi bayar pajak dan perawatan terus menerus apalagi kalau sampai belinya pakai kredit (tepok jidat kita), makai juga nggak akan terus-terusan. Terus itu yang punya koleksi tas yang harganya sampai milyaran rupiah juga, buat apa ya? apa setiap ganti warna baju juga akan ganti tas (sepertinya sih memang seperti itu xi...xi...xi...), kalau dilihat sih semakin hari sepertinya nilai jualnya juga akan menurun kalau di jual kembali.
Apa karena ini pemikiran kaum pinggiran seperti kita ya jadi nggak nyampek pemikirannya seperti mereka.

Kadang mereka lupa apa sih tujuan kita hidup, apa mereka tidak ingin untuk selalu bermanfaat buat orang lain. Mungkin yang dipikirannya bagaimana membuat senang diri sendiri, bagaimana menjadi terlihat lebih jaya dibanding temannya. 
Ini semua mungkin bisa kita jadikan bahan pemikiran juga, apa yang akan kita lakukan pada saat kita berada diatas, apakah kita akan mengikuti mereka ataukah akan membuat hidup ini lebih bermanfaat bagi sekitar kita. Semua akan kita kembalikan kepada kita lagi.

Apa Sih Virtual Asisten

  Beranda media sosialku lagi bersliweran info Virtual Asisten mulai dari pelatihan sampai jasanya. Awalnya sih karena aku penasaran cari k...