Me And My Twin - BUNDA NARAFID

30 Jan 2019

Me And My Twin



Bagaimana rasanya punya anak kembar? Repot nggak saat mengasuh mereka? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang diajukan teman, saudara dan orang yang baru kenal saat tahu aku punya si kembar. 

Pengalaman mulai kehamilan kembar sampai pengasuhan mereka adalah cerita yang takkan pernah terlupakan. Banyak pengalaman yang boleh dikatakan adalah yang pertama buatku. 

Aku mengetahui hamil kembar sejak umur kehamilan 4 bulan dan mengetahuinya pun nggak sengaja sebenarnya. Padahal dari umur 3 bulan sudah mulai periksa ke dokter, karena kasus pendaharan yang kualami. 
Awal kehamilan aku dan suami memutuskan akan melakukan pemeriksaan rutin di bidan terdekat aja, kalaupun harus ke dokter kandungan juga di klinik terdekat rumah aja. Tapi karena terjadi pendarahan saat usia kandunganku 3 bulan akhirnya harus ke dokter kandungan yang praktek di rumah sakit khusus ibu dan anak yang lumayan jauh dari rumah. Saat pemeriksaan USG pertama karena kasus ini belum terlihat kalau kehamilanku kembar. Kontrol bulan berikutnya untuk mengetahui perkembangan janin setelah pendarahan dilakukan USG lagi daaann saat itupun terlihat ada 2 janin yang nggak sejajar (soalnya kepala satu diatas satu dibawah he he he). Saat mengetahui ini yang dokter yang memeriksa sangat terkejut, karena saat pemeriksaan sebelumnya nggak terlihat sama sekali. Dokternya terkejut apalagi kita berdua, rasanya campur aduk pastinya antara bahagia dan bingung. 

Masa kehamilan di trimester pertama lumayan berat karena aku mengalami morning sickness yang lumayan parah menurutku karena nggak bisa bau nyium bau masakan yang sepele sih kayak bau masakn dari ikan-ikanan bahkan daging juga nggak bisa, paling suka makan tempe goreng yang dipenyet sama sambel bawang dan ini kebawa sampai anaknya gedhe sekarang ha ha ha (jadi inget kembarku maniak banget sama tempe penyet sambel bawang).
Trimester kedua dan awal trimester tiga adalah bagian yang enak nih. Makan nggak ada halangan malah nafsunya juga lumayan naik daripada hari biasa. Yang bisa dibilang gampang lapar aku maklum ada 3 yang harus diberi makan. 
Menginjak trimester tiga akhir semakin mengalami kesulitan bergerak dan tidur, ya dikarenakan kehamilan kembar besar perut yang diatas rata-rata, mungkin juga kegelisahan mendekati kelahiran. 
Dokter kandungan yang menangani diriku mengatakan kalau kembar biasanya sejak umur 8 bulan sudah lahir, tapi si kembar sampai umur 9 bulan belum kerasa kontaksi sama sekali. Yang kurasakan malah kulitku gatal-gatal seperti kena alergi gitu. 

Karena keadaanku yang semakin susah bergerak, tidur dan gatal di kulit kita mutusin buat ngelakuin operasi caesar untuk kelahiran kembar. Aku yang punya riwayat kehamilan beresiko dari awal kehamilan, pernah keguguran 2 kali dan anak pertama juga operasi caesar dokter tidak menyarankan hamil lagi diatas umur 30. Beliau takut kehamilan berikutnya akan semakin beresiko, sebenarnya kehamilan kembar juga termasuk hamil beresiko tinggi juga. Karena saran dokter dan juga pertimbangan anak sudah 3 aku dan suami memutuskan untuk menyetujui saran dokter melakukan KB steril buatku. Operasinya jadi dobel deh buat ngelahirin si kembar dan KB.

Akhirnya setelah 9 bulan kita nungguin ketemulah si kembar dan ternyata jenis kelaminnya cowok semua (karena sejak dari awal USG nggak pernah keliatan jenis kelaminnya disembunyiin terus ma mereka ha ha ha malu kali). Alhamdulillah lengkap deh malaikat dirumah seorang putri dan 2 pangeran kembar yang Insyaallah akan selalu menjaga si kakak. Si kakak punya 2 bodyguard he he he...

Pada saat kontrol pertama setelah kelahiran ke dokter kandungan, dokter bercerita kalau beliau melakukan 3 tindakan padaku. Sempet kaget pastinya karena kita hanya melakukan 2 tindakan aja, kelahiran dan sterilisasi. Ternyata mereka melakukan 1 tindakan lagi yaitu pembersihan kista di saluran telurku. Aku banyak bersyukur seandainya kembar nggak operasi caesar dan aku nggak minta steril pasti nggak akan pernah terdeteksi penyakitku itu. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya ya...alhamdulillah.


Ternyata cerita seru seputar aku dan si kembar nggak berhenti saat hamil dan melahirkan saja. Masa-masa menyusui mereka yang penuh perjuangan, karena ASIku nggak langsung keluar harus menunggu sekitar 3 hari baru keluar sedangkan sikembar susah buat minum susu formula itu membuatku semakin stress. Diriku sempet mengalami baby blues yang lumayan sih, aku yang sempet nggak mau megang si kembar, aku yang selalu menangis saat melihat anak-anakku, aku yang selalu susah tidur, pikiran-pikiran negatif banyak bersliweran di kepala. Bersyukur punya suami yang selalu siaga, selalu mendampingi saat merawat kembar dan si kakak (kebetulan si kakak masih umur 3 tahun dan dia masih harus ikut terapi juga), suami yang selalu mengingatkan bahwa anak-anak akan selalu merasakan apa yang ibunya alami,  terus terang saat aku mengalami ini si kembarku nggak berhenti menangis. Alhamdulillah ini hanya berlangsung selama 2 hari karena kesadaran yang terus diberikan suamiku.

Akhirnya ASI bisa lancar dan si kembar tidak pernah mau kalau minumnya bergantian. Alhamdulillah saat di rumah sakit dokter anak yang menangani si kembar sudah mengajari bagaimana menyusui 2 bayi langsung. Aku memberikan ASI buat si kembar itu selama kurang lebih setahun saat umur 4 bulan mereka mulai kukenalkan susu formula, karena kondisiku yang kadang drop sehingga produksi ASI berkurang dan mereka yang terus menangis. Susu formula biasanya diberikan saat aku tidak ada dirumah, itupun jarang sekali. Aku jarang meninggalkan mereka lebih dari 2 jam. Alhamdulillahnya aku punya asisten rumah tangga yang membantu menjaga mereka. 
Saat kita mengasuh anak terutama yang masih bayi jangan pernah takut atau malu untuk meminta bantuan orang lain, karena kita juga butuh istirahat butuh waktu sendiri. 
Mungkin yang sampai saat ini kusesali adalah aku kurang kuat untuk memberikan Asi pada mereka. Harusnya aku rajin memompa ASI ku sehingga bisa diberikan saat aku nggak ada dirumah. Tapi aku masih bersyukur kok karena masih bisa memberikan ASI pada mereka walaupun tidak bisa eksklusif.

Saat umur 8 bulan kejadian yang dialami si kakak terulang ke si kembar, salah satu dari mereka mengalami demam kejang. Akhirnya nginep deh di rumah sakit. Pengalaman ini Insyaallah akan kuceritain di postingan yang lainnya aja ya. Salah satu yang membuat aku harus menyapih mereka saat umur setahun ya ini keluar masuk rumah sakit dan ASIku bener-bener berhenti sendiri tanpa proses penyapihan yang panjang. Alhamdulillah mereka berdua tidak mengalami rewel yang lama karena ASI yang berhenti produksi. 

Pengalaman bareng si kembar memang tidak akan pernah terlupakan apalagi bagi ibu. Pengalaman kehamilan dan pengasuhan setiap anak adalah unik dan takkan pernah terlupakan. Ada aja kelakuan mereka yang membuatku selalu tertawa. Mungkin akan jarang ditemuin saat hanya punya anak tunggal. 
Bagiku pengalaman kehamilan sampai pengasuhan si kembar salah satu yang nggak akan kulupakan dan bisa aku bagikan ke banyak ibu yang membacanya.



1 komentar:

Ainhy Edelweiss mengatakan...

perjuangan memiliki anak kembar itu seperti ini yah kak, tapi keinginanku gak surut, pengen banget punya anak kembar nanti hhehe. I am so produ you are a strong woman. Mudah2an selalu diberikan keberkahan untuk keluarganya yah kak, amiin

@templatesyard